Gw barusan, sebelum berencana nulis nih posting, ngebaca satu artikel di koran Kompas 18 Juni 2008 judulnya “Nasib Joachim Loew Ditentukan Rabu”. Pada tahu kan Joachim Loew siapa? Dia pelatih Jerman yang ngegantiin si Juergen Klinsmann. Dia katanya kmaren ribut2 bareng tihnya Austria ngasih pemberitahuan ama wasit. Ini juga gw tahunya dari koran, berhubung gw ga nonton langsung. Nah, seperti yang tadi gw tulis, artikel tersebut dikasih judul yang kata pertamanya “nasib”. Gw jadi kepikiran buat nulis artikel yang ngebahas antara nasib dengan takdir (destiny), yang biasanya menurut gw disalahartikan sama banyak orang.

Nasib, bagi gw itu adalah seluruh rangkaian kehidupan yang dialami oleh seseorang, namun orang tersebut tidak bisa merancang apa yang terjadi padanya. Sementara itu, kalau takdir, bagi saya adalah jalan hidup seseorang yang bisa dicoba untuk dirancang. Setiap orang bisa saja merancang takdirnya akan menjadi seperti apa. Tapi, yang menjadi kenyataan adalah tidak setiap rancangan takdir dari orang tersebut akan berhasil. Bahkan, bisa saya katakan bahwa hampir tidak ada rancangan takdir yang dibuat oleh seseorang yang sesuai dengan jalan hidupnya yang telah ditentukan oleh Tuhan. Ya, saya jadi ingat, yang namanya “Nasib” itu ditentukan oleh Tuhan. Jadi, kita ngga bisa menentukan nasib kita di kemudian hari bakalan seperti apa. Yang bisa dilakukan oleh manusia hanyalah menebak, bagaimana nasibnya kelak. Merancang, bagaimana takdirnya kelak. Rancangan sebuah takdir akan membentuk suatu keyakinan dalam diri seseorang. Dengan adanya suatu keyakinan dalam diri suatu individu, maka dia akan membentuk suatu harapan, di mana dia berharap bahwa nasibnya akan menjadi sesuai dengan apa yang diyakininya, di mana apa yang diyakininya itu disebut sebagai rancangan takdir. Di sinilah, dapat kita lihat, bahwa, hope, faith, fate, dan destiny saling berkaitan.

Dapat kita lihat juga berbagai macam contoh orang yang ingin menunjukkan bahwa nasib dan takdir itu tidak bisa ditentukan oleh manusia, tapi hanya bisa dirancang atau ditebak. Bagi anda yang pernah menonton serial F.R.I.E.N.D.S., ada satu episode yang saya tonton tadi siang, di mana Chandler dan Monica bercerita mengenai waktu mereka pertama kali jatuh cinta satu sama lain. Ternyata, pada malam Monica menemukan Chandler di kamar itu, Monica sebenarnya mencari Joey, bukan mencari Chandler. Chandler, menurut saya, pasti pada awalnya mengira bahwa itu adalah nasibnya untuk bertemu dengan Monica di kamar tersebut. Mereka belakangan menyadari, bahwa itulah takdir Chandler dan Monica, yaitu untuk bertemu. Kita dapat mengetahui bahwa ini adalah suatu takdir, karena jika pada waktu itu Joey tidak pergi bersama salah satu pengiring pengantin, maka Monica akan bertemu dengan Joey, dan mungkin Monica dan Chandler tidak akan melakukan rencana untuk menikah. Inilah suatu contoh di mana manusia hanya bisa menebak bagaimana nasib dan takdirnya akan terjadi, namun mereka tidak bisa mengaturnya.

Ada juga contoh lain. Bagi anda yang menonton How I Met Your Mother, pada episode ke-15 di season 2, judulnya Lucky Penny. Di situ diceritakan bagaimana Ted dan Robin ketinggalan pesawat ke Chicago, yang diakibatkan oleh serangkaian peristiwa. Mereka mencoba menebak-nebak siapa yang menjadi penyebab keterlambatan mereka dari akarnya. Setelah ditelusuri secara mendalam, ternyata itu berasal dari Ted sendiri. Pada akhir cerita, Narator (Ted tua) berkata, bahwa jika mereka tidak terlambat pergi ke Chicago, maka dia tidak akan bertemu dengan ibu dari anak-anaknya.

Dari kedua contoh di atas, kita diberitahu, tidak ada seorang pun yang bisa menentukan takdirnya sendiri. Manusia hanya bisa pasrah kepada Tuhan, di mana Ia adalah yang menentukan jalan hidup dari setiap individu. Manusia hanya bisa berharap, bahwa apa yang diharapkannya menjadi kenyataan….

Coba saja anda resapi tulisan saya… Masih sedikit ngawur, tapi ini adalah pandangan saya mengenai Nasib dan Takdir….