Natural Product Organic Chemistry

Dikenal juga sebagai Kimia Organik Bahan Alam, atau disingkat sebagai KOBA (akan disebut sebagai koba atau KOBA di dalam artikel ini untuk selanjutnya).

Secara garis besar, bidang keahlian Kimia Organik Bahan Alam membahas tentang senyawa-senyawa metabolit sekunder yang ada di alam yang tidak termasuk dalam kelompok makromolekul Biokimia seperti karbohidrat, protein, dan asam nukleat. Lipid kadang-kadang masih dibahas juga tapi jarang yang termasuk lipid “normal” yang asam lemaknya palmitat oleat dll itu. Mostly tentang metabolit sekunder dari tumbuhan, meskipun gw kurang paham kalo yang metabolit sekunder dari hewan gimana cara isolasinya hehe. Oiya jadi yang dibahas kebanyakan seputar ada senyawa apa aja, struktur senyawanya seperti apa, mekanisme kerja bioaktivitasnya gimana, dll dan juga termasuk cara isolasi dan pemurniannya.

Sedikit pengantar tentang KOBA ITB: Program Studi Kimia ITB memiliki 4 Kelompok Keahlian yang menjadi basis penelitian-penelitian yang dilakukan di Kimia ITB, yaitu KK Kimia Organik, KK Kimia Analitik, KK Biokimia, dan KK Kimia Anorganik dan Fisik. KK Kimia Organik dapat dibagi menjadi dua konsentrasi yang terpisah tapi ga terpisah-pisah banget: Kimia Organik Sintesis dan Bioorganik (selanjutnya disebut sebagai “sintesis”) serta Kimia Organik Bahan Alam. Sintesis punya dua laboratorium, sementara KOBA karena seperti yang telah disebutkan di atas cukup ribet, punya 3 ruang laboratorium, 1 ruang instrumen, 1 ruang kultur (biasanya dipake buat kultur jaringan tumbuhan), dan 1 ruang assay.

Sejauh pandangan gw sebagai mahasiswa program sarjana, KOBA bukan wilayah primadona. Lebih banyak mahasiswa pascasarjana. Dari tiap angkatan paling-paling 3-4 (dari seangkatan berkisar antara 90-100), itu juga lebih ke sintesis senyawa dengan dosen pembimbing Pak Didin Mujahidin (beliau memang spesialisasinya sintesis, gw pernah denger beliau disebut ahli sintesis Indonesia yang ga pernah gagal dalam sintesis, tapi beliau juga sering meneliti senyawa bahan alam) yang ngelabnya di ruang A KOBA. Jadi lab-lab di KOBA tetep penuh, meskipun bukan sama anak S1, tapi sama S2 dan S3 :v KOBA B dan KOBA C yang bimbingannya bersama Bu Prof. Euis, Pak Prof. Yana, dan Bu Lia. Penelitian yang gw tau sejauh ini dari keluarga nangka-nangkaan, ada juga tumbuhan Lauraceae, Macaranga, dll, terkait ada senyawa apa aja, strukturnya gimana, dan bioaktivitasnya sebagai senyawa berpotensi buat obat kanker dan malaria.

This semester (gw nulis ini berasa lagi nonton trailer film) gw dan seorang temen gw bernama Eunike dipanggil Ike mengambil kuliah Proyek Khusus yang isinya mini penelitian yang bener-bener udah kayak TA, pake bikin proposal dll. Kami bersama dosen pembimbing Prof. Dr. Yana Maolana Syah, MS., seorang ahli kimia organik bahan alam, dan yang paling baru beliau ini ahlinya NMR di Indonesia. Adanya NMR pertama di Indonesia, di LIPI, itu konon katanya berkat perjuangan beliau! NMR itu apa googling sendiri yah. Ga pake bahan radioaktif kok, cuman helium cair, nitrogen cair, superkonduktor, dll. Anywaysss kami diminta untuk mengisolasi senyawa kelas Terpenoid, tepatnya suatu sesquiterpene dialdehid bernama poligodial dari tumbuhan bergenus Drimys. Tumbuhan ini tumbuhnya di daerah Papua. Poligodial sendiri sudah dikenal di masyarakat ilmiah sebagai senyawa dengan rasa pedas setara merica, dan memiliki manfaat sebagai senyawa antimikroba. Sudah banyak penelitian terkait senyawa ini terutama terkait aktivitas antimikrobanya. Kami berdua disuruh isolasi senyawanya dari fraksi n-heksana ekstrak… gw lupa kulit kayu apa daunnya gitu. Setelah kami berhasil isolasi nanti, kami bakal mentransformasi kedua gugus aldehid senyawa tersebut. Yang enaknya, topik ini boleh dilanjutin buat TA :p

Sebenernya salah satu tujuan gw nulis postingan kali ini lebih ke curhat sih haha. Jadi kemungkinan besar tata bahasa gw akan terdegradasi lebih lanjut haha.

Kenapa tiba-tiba gw pengen ngebahas tentang koba? jadi sejak jaman SMA dan masih ikutan OSN lalala itu, gw sudah sangat terpikat dengan yang namanya kimia organik, terutama sejak dikenalkan oleh Kak Wira yang ngajar di pelatihan OSN Penabur seputar kimia organik. di dunia kimia organik, terutama sintesis organik, bener-bener terlihat bagaimana seninya merancang suatu reaksi organik, bagaimana rentetan reaksi harus dirancang sedemikian rupa untuk membuat suatu produk reaksi dengan rendemen yang tinggi, dan ga jarang harus dengan memperhatikan regioselektivitas dan stereoselektivitas…. Sungguh gw seneng dengan kimia organik mulai saat itu, meskipun dibilang bener-bener jago itu terlalu muluk-muluk. ditambah fakta bahwa gw ga terlalu suka sama hitungan… kimia organik sangat menarik buat gw. Tapi ada sedikit setback. Bokap gw adalah seorang pensiunan guru kimia SMA berpendidikan S3 dari luar negeri; dia cukup paham dengan bahayanya bahan-bahan kimia, dan kadang sampai pada tingkat yang bisa dibilang agak paranoid (but still I know you do that because you care, dad:)). Dengan demikian yang ada di pandangan gw adalah bahwa banyak bahan kimia yang berbahaya bagi kelangsungan tubuh, semacamnya karsinogen lalala gitu deh. Jadi gw pengen menghindari sebanyak mungkin bahan-bahan semacam itu, yang notabene banyak terdapat dalam olahan minyak bumi dan pelarut-pelarut yang aneh-aneh. Nah masuklah dunia kuliah, dan akhirnya gw mengenal kalo kimia organik di kimia ITB itu dibagi jadi dua seperti yang di atas. Tertariklah gw dengan sintesis organik, terutama dengan praktikum kimia organik yang cukup menunjukkan bedanya dua dunia sintesis dan koba: di sintesis lu bisa merancang supaya produk yang lu dapatkan cukup banyak, at least dengan jumlah yang kalo diliat pake mata masih keliatan gitu lah ada barangnya. Sementara itu di KOBA, yang lu masukin misalkan daun sekian kilo, yang keluar senyawa isolat cuman sekian MILIGRAM :V iya. MILIGRAM dari sekian KILOGRAM yang lu olah. Dari situ gw lebih condong ke arah sintesis organik. Naaaaaaaaah seiring perjalanan gw di kimia, ada batu sandungan lagi: sintesis organik di ITB sejauh pemandangan gw lebih banyak ke arah Enhanced Oil Recovery, surfaktan, dan inhibitor korosi, sementara senyawanya…. well…. diduga karsinogenik:/ Oiya, untuk menghindari semua itu, gw memilih pendekatan ke kimia bahan makanan (food chemistry) dengan pertimbangan bahwa senyawa-senyawa yang dipakai dalam makanan atau edible things itu seharusnya diproduksi dalam kondisi yang juga aman bagi manusia kan? mudah-mudahan benar seperti itu. Masalahnya… yang pendekatan ke situ dari wilayah sintesis organik… hampir ga ada dan itu kurang umum gitu deh. Jadi agak sulit ambil pendekatan itu. However, praise ITB for letting us take subjects from outside our own study program! gw sudah merencanakan ambil mata kuliah farmasi dan mikrobiologi terkait makanan. oke balik lagi ke kimia. Jadi kalo di kimia, yang fokusnya penelitian ke makanan itu adalah…. biokimia. yang berarti gw harus berkutat dengan lingkungan steril yang bermain dengan protein karbohidrat enzim dll yang mahal dan ribet, mainnya mikroliter udah bukan mililiter lagi. ya, MIKROLITER. bukan MILILITER. dan yang jumlahnya mikroliter itu harganya bisa berjuta-juta:/ sedih kan.

Dalam kesedihan dan kebingungan itu mencari topik proyek khusus (target ideal gw: sintesis organik, terkait makanan), gw dan Ike ngambil kuliah yang baru dibuka berjudul Dasar-dasar Fitokimia, atau kalau Pak Yana nyebutnya selalu Dasar-dasar Kimia Bahan Alam. Di situ Pak Yana selain ngajar materinya juga sering cerita tentang penelitian beliau. Dari situ gw dan Ike tertarik, terutama bahwa senyawa-senyawa penelitian beliau bisa diaplikasikan juga ke manusia daaaaan diambilnya dari buah nangka, sukun, cempedak, which are all food! Tertarik, akhirnya gw dan Ike memutuskan buat ngambil prosus sama Pak Yana.

Seiring keberjalanannya, ketahuan lah bahwa kami berdua selama ini melakukan hal-hal kecil yang ngaco :v contohnya aja kami KLT pake gelas kimia meskipun harusnya pake chamber… Motong pelat silika buat KLT ga seragam jadinya boros…. Baru tau yang namanya metode Kromatografi Cair Vakum dan Kromatografi Radial…

Dan somehow, setelah berproses sekian lama…. kami pun jatuh cinta sama Kimia Organik Bahan Alam.

Di lab ini kami belajar buat kerja rapi dan dengan teknik yang benar. Kami berurusan dengan sampel yang sedikit, bayangin aja dari sekian kilo sampel, senyawa yang ditargetin bisa jumlahnya cuman miligram yang didapatkan. Kalo tekniknya salah dan kerjanya ceroboh, bisa-bisa cuman pemborosan sampel doang, senyawanya bisa hilang, dll. Selain itu untuk bisa dikarakterisasi, penting banget buat bisa dapet senyawa yang murni. Contohnya aja spektroskopi NMR, kalo sampe sampel yang diuji senyawanya ga murni, spektrum yang didapat bisa jelek banget sampe-sampe ga bisa diinterpretasi datanya. Padahal buat sekali uji NMR lengkap biayanya bisa sampe 2 juta lebih. Belom lagi buat proses memurnikan itu butuh banyak pelarut, banyak silika (yang jenisnya juga ga cuman satu), banyak vial yang harus dipakai….

Tapi dari semua itu kami berdua tetep jatuh cinta dengan KOBA🙂 Memang KOBA bukan cup of tea semua orang, tapi tentu saja it is our cup of tea now🙂 bahkan kami berdua pengen lanjut TA dengan topik yang sama hehehe. Dari yang dulunya pengen banget sama sintesis organik, sekarang jadi cinta denga isolasi senyawa🙂 Nanti deh kapan-kapan gw cerita lebih lanjut tentang penelitian gw yah kalo udah kelar! hehehe