44 tahun stema.png

Hai, kamu.

Ya, kamu. Atau mungkin sebaiknya aku menyebutmu sebagai kalian. Karena dirimu memang satu entitas tunggal, tetapi kamu terdiri atas banyak identitas manusia-manusia yang terdapat di dalam dirimu. Manusia-manusia, yang menyebut dirinya dengan nama yang diberikan padanya oleh orang tua mereka masing-masing, yang menjadikanmu berwarna dengan berbagai kepribadian dan keahlian. Tidak hanya sekedar hitam putih, seperti logomu sekarang. Ah, tak apa lah. Toh meskipun demikian, mereka tetap menjadi satu di bawah namamu.

Hari ini, meskipun aku yakin tidak pada dini hari juga (Atau mungkin benar dini hari?), 44 tahun yang lalu, 25 Juni 1972, sekelompok manusia-manusia pendahulu itu bersatu dan memberi nama kelompok mereka itu sebagai namamu. Atas dasar minat dan keinginan berteater bersama. Dimulai dengan satu pementasan. Dan bersama dengan itu terbitlah dirimu. Mengarungi lintasan waktu, melewati berbagai badai dan suka cita, baik secara harafiah maupun konotatif. Berkembang, tidur, dan bangun lagi dengan semangat yang baru. Sampai tibalah engkau pada hari ini.

Kebetulan umurmu sekarang persis 2 kali lipat umurku sekarang, 22 tahun. Mungkin ini sebuah kebetulan yang tidak sering kita temui. Tahun ini juga, umur himpunanku, 60 tahun, sama dengan 2 digit terakhir NIMku. Tetapi itu cerita lain. Aku hanya ingin bercerita tentang dirimu, yang kalau ingin dilebih-lebihkan sedikit dengan bahasa yang katanya puitis, mempunyai tempat tersendiri di hatiku.

Aku telah ingin menjadi bagian dari dirimu semenjak sebelum aku terdaftar sebagai mahasiswa di kampus gajah ini. Aku tertarik dengan bayang-bayang akan melanjutkan hidupku sebagai penari bersamamu. Dan ketika waktunya tiba, aku pun merelakan diriku ke dalam pangkuanmu. Mungkin memang tidak begitu saja engkau menerimaku. Kamu mempertemukanku dengan manusia-manusia yang sekarang kusebut sebagai angkatanku. Banyak ujian dan rintangan yang kau lemparkan, tetapi juga kau berikan keriaan, dan yang paling penting, pembelajaran. Ya, pembelajaran, yang bahkan menjadi bagian dari namamu. Dan itu semua berkulminasi di pementasan pertama kami, Ego Cinta Adella. Selepasnya kami pun menjadi bagianmu sepenuhnya. Menyelami kehidupan, di atas, di belakang, maupun di luar panggung sandiwara. Belajar bagaimana untuk menjadi manusia yang seutuhnya. Karena toh, apa artinya kami memerankan manusia, tanpa kami sendiri menjadi manusia?

Lalu tak terasa 4 tahun sudah kulalui di kampus ini, kurang lebih 3,5 tahun aku menjadi bagian dari dirimu. Waktu dulu aku menyerahkan diriku kepadamu, tak pernah aku membayangkan akan mendapatkan semua ini. Mungkin Tuhan memang punya rencana-Nya sendiri ketika dia mempertemukan kita. 4 tahun aku belajar menjadi seorang aktor, menjadi produser, menjadi sutradara, dan menjadi seorang pelayan, yang melayanimu dengan segenap keikhlasan dan kebahagiaan, dengan seluruh keringat dan energi yang kumiliki, hanya dengan harapan bahwa engkau tidak tertidur lagi. Bahwa engkau akan tetap berdiri tegak, berjalan menuju masa depan, dan jika perlu suatu saat nanti engkau akan terbang melintasi jagat raya. Ah, bisa saja aku ini. Seakan-akan hanya aku yang melakukannya saja.

Kira-kira bulan depan, statusku bersamamu sudah berubah. Aku masih menjadi bagian dari dirimu, tetapi engkau melepasku ke belantara sana, untuk mencari pengetahuan, mencari pengalaman, dan tidak terkungkung dalam sangkar emas. Aku tak tahu, bagaimana dirimu kelak. Akankah engkau terus berjalan? Akankah engkau terus berkembang? Akankah nanti engkau akan terbang? Atau, akankan nanti engkau malah tersungkur dan kembali dalam tidur kelam? Aku harap engkau akan senantiasa belajar. Entah engkau akan menjulang tinggi, atau mendaki gunung, atau membelah gurun dan dataran, atau bahkan diam merenung. Semua itu adalah pembelajaran. Selalu ada yang bisa kau ambil hikmahnya. Dan jika nanti kau sudah besar, janganlah lupa sejarahmu. Bahwa kau pernah jatuh, dan kau pernah bangkit lagi dengan susah payah. Dan jangan lupa dengan jargon dan tujuanmu dibentuk.

Yah, tulisan ini sebenarnya memang dibuat dengan tujuan merayakan hari jadimu yang ke-44. Mungkin sebuah persembahan dariku yang sebentar lagi akan melanjutkan perjalananku. Karena kali ini dengan angka yang bagiku cukup spesial, maka aku menyempatkan waktu sedikit, sebelum aku harus tidur agar tidak ketinggalan kereta nanti pagi, untuk menjadi sok puitis sedikit. Dan agar aku tidak lupa dengan awal kita bertemu, aku menggunakan salah satu foto peran pertamaku, yang kulakoni agar aku dapat menjadi bagianmu. Poleng, seorang pembantu tua, bersama dengan Parti, rekannya itu. Dan mungkin sebagai penutup, aku akan mengutip mukadimah AD/ART milikmu. Dua paragraf yang cukup spesial dan menyentuh bagiku.

Adalah jiwa dan raga bersatu membentuk sebuah bentuk manusia. Manusia sebagai mahasiswa atau siswa, manusia sebagai guru atau dosen atau rektor, manusia sebagai pedagang atau pengusaha atau hartawan, manusia sebagai raja atau penguasa, dan manusia sebagai apapun juga.

Dalam teater sendiri terdapat sebuah kreativitas unik pembalikan logika: Manusia menjadi manusia. Dan inilah yang dilakukan sekelompok orang-orang yang berkumpul dalam suatu komunitas sosial berinisial STEMA, di mana diharapkan proses-proses memanusiakan manusia ini dapat diintegrasikan untuk sebuah tujuan, membuat orang tertawa, membuat orang menangis, membuat orang marah, membuat orang mengetahui, atau cuma membuat orang melihat.

Selamat ulang tahun yang ke-44, Studi Teater Mahasiswa ITB. Selamat menempuh tahunmu yang ke-45. Semoga tetap menjadi manusia.

Jadilah manusia, atau mati!

Bandung, 25 Juni 2016

Theodorus Felix D. A., biasa dikenal sebagai Dono